Animasi, sebuah TINDAKAN !


MEMASYARAKATKAN ANIMASI & MENGANIMASIKAN MASYARAKAT


 

Perkembangan animasi indonesia tidak pasang dan tidak surut. Semakin tumbuh dibandingkan lima atau sepuluh tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dengan semakin banyak film-film animasi yang sudah bisa dinikmati oleh masyarakat dan semakin bermunculan para ‘pekerja’ seni animasi atau yang lebih asik disebut animator baik dari kalangan pelajar maupun profesional yang bahkan sudah dikategorikan sebagai animator kelas dunia. Saya tidak akan menyebutkan para tokohn-ya (baca;tukang bikin animasi) karena yang ingin saya tulis adalah dinamika perkembangan dunia animasi itu sendiri.

 

” Pertumbuhan yang terjadi cenderung gemuk ke samping, bukan meninggi!!!

Dalam status dan posisi-nya yang dijadikan salah satu bentuk ” ekonomi kreatif “, begitu ramai diucapkan dan diperjanjikan , pada kenyataannya sampai saat ini hanya ada kreatif-nya saja, ekonomoniya entah dimana dan kemana. Meskipun ada, antara kreatifitas dan ekonomi-nya belum berbanding lurus. 

Mari kita lihat, bangsa eropa membuat animasi dengan pemikiran rasional dibarengi pemaparan karakter yang mendalam. Animasi bagi bangsa Jepang tidak lepas dari obsesi, penggambaran tokoh dan cerita tidak terpisahkan dari fantasy. Dan, Amerika adalah sebuah industri dimana animasi menjadi energi, antusiasme, dan gaya hidup. Lantas, bagaimana dengan Animasi Indonesia?

Jangan tanyakan lagi apakah Animator Indonesia mampu membuat kota jakarta hancur oleh amukan monster  seperti kota New york dihancurkan “Godzilla” dalam film Godzilla. Potensi dan kemampuan SDM dibidang komputer untuk film dan animasi, sangat berlimpah dan mumpuni. Begitupun di dunia pendidikan sudah ada upaya serius untuk membekali wawasan dan pengetahuan dengan dibuatnya kurikulum sebagai dasar kompetensi para siswa dibidang film dan animasi. Sejak usia sekolah mereka sudah dipersiapkan, didorong dan diposisikan sebagai (output) hasil pendidikan yang siap pakai ( seperti itu iklan-nya ). Potensi dan kemampuan para pelajar untuk menjawab tantangan industri per-filman dan animasi sudah cukup menggembirakan. Pertanyaannya adalah:

Dimanakah industrinya…? Apakah wadah atau tempat untuk menampung kreatifitas sudah berbanding lurus ketika mereka memasuki dunia kerja..?.

Indonesia tidak pernah ketinggalan dalam urusan membicarakan tentang animasi. Seminar, saresehan, workshop bahkan lembaga kursus, pelatihan, dsb sudah banyak diselenggarakan dan didirikan diseluruh pelosok negeri ini. Pertanyaannya adalah : bagaima setelah itu….? seperti apa kelanjutannya ?

Berbicara animasi tidak bisa lepas dari kata industri. Artinya, dibutuhkan berbagai unsur yang berkaitan dengan proses dan  hasil produksi itu sendiri. Para pelaku animasi atau Animator  tidak bisa  dibiarkan bekerja secara individu, tapi harus dimobilisasi dalam satu wadah dan tekad. Seminar dan workshop akan lebih tepat apabila menghadirkan seluruh unsur yang memiliki kepentingan seperti: investor sebagai penyandang dana,  media sebagai mitra , masyarakat sebagai konsumen,  dan yang tidak kalah penting hadirnya para pembuat kebijakan di pemerintahan untuk ikut mendukung dengan menciptakan kebijakan agar produk animasi yang dihasilkan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Studio-studio harus tumbuh dengan berdiri diatas kaki sendiri. Workshop bukan sekedar sharing bagaimana membuat film animasi yang baik dan benar. Seminar bukan hanya pembahasan metode belajar, materi kurikulum bukan soal harus dijalankan dan diberlakukan, software atau perangkat kerja yang harus digunakan  dan lomba-lomba yang diselenggarakan bukan sekedar ajang pamer teknologi dengan sang juara mengangkat piala diakhir acara, perayaan belaka. Tetapi, semua membutuhkan tindakan, mencari solusi bagaimana produksi bisa dijalankan secara berkelanjutan, darimana bisa diperoleh ongkos produksi, bagaimana memasarkan hasil produksi, bagaimana menjaga konsistensi, bagaimana para animator menunjukan eksistensi sehingga karyanya bisa dinikmati oleh masyarakat, bagaimana kontribusi yang diperoleh sehingga karya yang dihasilkan menjadi sebuah kebanggaan, dan sudah tentu profesi yang dijalani bisa mensejahterakan.

Seandainya,  semua unsur tadi bisa duduk bersama  untuk merealisasikannya maka akan tercipta sebuah industri, bukan sekedar rumah-rumah produksi yang “ada order kumpul ga ada order bubar”, tapi sebuah industri masal yang melibatkan banyak SDM dan akan selalu menyerap tenaga kerja yang selama ini sudah lebih dulu dihasilkan dari sebuah proses pendidikan, pembelajaran, pelatihan, dsb. Tentu, baik pemerintah maupun para pelajar akan memiliki alasan yang bagus, kenapa harus diadakan kurikulum jurusan animasi dan kenapa para siswa memilih menggeluti bidang animasi, ya..karena animasi bukan sekedar mimpi, tapi sebuah Industri yang nyata tempat mereka kelak bekerja.

Barangkali, sudah saatnya segala hal tentang animasi bukan lagi sesuatu yang hanya menarik untuk diperbincangkan dan dilombakan saja, atau terus menerus “disayembarakan” pekerjaannya, tapi menjadi tindakan kreatif yang dilakukan secara berkelanjutan, tak putus-putus sehingga melahirkan sebuah Industri yang menciptakan kesejahtraan bagi para animator itu sendiri.

Bagaimanapun kondisi saat ini, para pekerja seni (animator) tidak boleh cengeng, harus terus berjalan, konsistensi diperlukan dan tidak boleh menyerah, eksistensi harus terus dijaga. 

” Memang, butuh perjuangan yang sangat panjang meski untuk membuat sebuah film pendek “

Eksistensi dan konsistensi dari kita sebagai pelaku akan bisa membawa pertumbuhan semakin meninggi. Tidak lagi ( baca;gemuk ke samping ), ataukian melebar. Semoga.

Mari kita bersama ciptakan network, untuk memasyarakatkan animasi dan menganimasikan masyarakat di Indonesia. Boleh percaya boleh tidak, lima tahun kedepan dan seterusnya kita akan mampu melakukan swa sembada animasi. 

 

Salam untuk semua rekan kreatif, jangan lupa gembira.

dpikie,

-matahati CREATIVE PEOPLE-animasi setiap hari! ( datang, tertawa, senang)

selamat berkarya, genk 😀


2 Komentar

  1. Semoga studio matahati bisa menjadi sebesar pixar.. bisa terus mengilhami orang awam seperti saya untuk yakin bahwa mimpi bisa diraih.

    1. Author

      aamiin,,jangan kebesaran aah 😀
      btw makasih rheina..ud kontakan ma kak nita? kan ud dikirim ke email km.

Tinggalkan Balasan ke dpikie Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *