Objektifitas vs. Kreatifitas

Baiklah, kita tidak perlu berdebat dalam hal ini. Tapi mari kita saling memahami bahwa antara normatif dan produktif masing-masing memiliki metode yang berbeda dalam berpikir. Mata pelajaran normatif akan menggunakan pola berpikir objektif dan subjektif, karena segala sesuatu dituntut harus menjadi pasti. Dalam mata pelajaran produktif, kita dituntut untuk menjadi kreatif. Hasil dari pembelajarannya adalah seberapa banyak yang bisa dilakukan tidak lagi seberapa besar nilai yang diperoleh. Oleh sebab itu ada pola berpikir lain yang harus dikembangkan untuk menjadi kreatif. Selain objektif dan subjektif kreatifitas menuntut kita berpikir secara visual (berpikir dengan bahasa gambar) dan lateral (berpikir secara melompat). 

  • β‡’ Dalam matematika, AP, kimia, fisika, biologi, kebangsaan, dll kita akan mudah mendefinisikan seekor harimau. Para pengajar akan tegas menentukan batasan definisi baik wujud maupun sifatnya dengan sangat yakin bahwa harimau adalah binatang buas, pemangsa, serem..dll. Memang seperti itu, dan hukum pasti sepertinya harus begitu…barangkali.
  • β‡’Dalam kreatifitas terutama animasi, definisi yang digambarkan (berpikir visual) tidak hanya seperti itu dan tidak harus begitu! Kita dituntut untuk memiliki beragam definisi dan kita akan diberikan ruang untuk sebuah tindakan kreatif.

Maka definisi lain dari seekor harimau dalam menggambarkannya tidak lagi harus buas atau menyeramkan, tapi kebalikannya. Secara visual kita bisa menggambarkan seekor harimau dalam bentuk lucu, menyenangkan, bahkan menggemaskan.

Jadi kita sepakat? meskipun kita dan mereka sama-sama belum pernah bertemu harimau, berkegiatan, berteman atau pernah bermasalah, apalagi japrian dg harimau πŸ˜† , kita maupun mereka sama-sama tidak pernah kenal harimau, tapi dalam mendefinisikannya kita dituntut harus memiliki beragam sudut pandang, dan imajinasi visual. Seperti dalam gambar, karena itulah kreatifitas.

Tindakan kreatif bebas bereksplorasi, menjelajah kemana saja dia mau sebagai upaya dalam mencari sebuah bentuk. Bentuk dari angan-angan yang diarahkan, dan hayalan yang dikendalikan

 

Semoga para pembuat kebijakan kurikulum dan rekan pengajar mata pelajaran diluar kompetensi produktif pendidikan kejuruan (vokasi) bisa memahami keunikan ini!

 

Salam pagi dan roti,

Generasi gembira

 

2 Komentar

  1. Asik bangeuud baca ini πŸ‘β€
    Jika guru guru kami seperti bapak atau kakak yang menulis ini…..belajar dikelas bakalan seneng.

  2. Kalau guru seperti kakak maka nilai hanyalah akan jadi sebuah angka saja dan tidak dijadikan patokan keberhasilan siswa..
    Selalu suka tulisan kakak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *