Kelinci diantara Pangrango dan Telemachus

 

Hai!! Apa kabarnya kawan-kawan? Akhirnya bersapa lagi dengan kalian para pembaca. Ih saya kangen banget.. (padahal baru nulis sekali dan belum ada yang komen. Ah mikiran teuing). Semoga kita semua sehat selalu dan gembira semua yaa! Aamiin.

 

“IT ALL BEGIN WITH A STRONG STORY”

(SEMUA DIMULAI DARI CERITA YANG KUAT)

Terhitung sudah sekitar 3 bulan yang lalu semenjak kehadiran saya di Studio Matahati sebagai mahasiswa yang sedang magang dan pelukis tembok dadakan, ternyata saya diangkat jadi seorang MENTOR pada minggu pertama. Sekitar pukul 20:00. Ketika sedang diskusi bebas di meja bundar dan ditemani suara sepoi-sepoi dari siaran TV yang tidak diperhatikan, serta secangkir teh hangat yang baru saja saya bikin, tiba-tiba Presiden Matahati membuka obrolan. “Kalian tau arti kata MENTOR? Tidak sembarangan saya menggunakan istilah mentor untuk kita semua disini.. Itu ada artinya.” Ngedenger si bapak bilang begitu tangan saya langsung gatal untuk buka Google. Apa sih artinya MENTOR? Setelah berkutat sekitar 90 detik saya berselancar di dunia maya akhirnya ketemu juga, begini kira-kira…

 

“Salah satu legenda Yunani yaitu Odysseus, pahlawan perang Troya, memiliki seorang sahabat bernama Mentor. Selama Odysseus memimpin angkatan perang Yunani untuk menyerang Troya, ia memercayakan putranya, Telemachus ke dalam tangan Mentor. Mentor tidak saja menjadi seorang guru (asah), pengganti figur ayah (asuh), tetapi juga menjadi sahabat tempat curhat (asih) dari anak yang sedang bertumbuh dewasa itu. Ketika Odysseus tak kunjung pulang bertahun-tahun kemudian, Mentor pulalah yang meyakinkan Telemachus untuk berlayar mencari sang ayah.”

(buku Coaching Genius)

 

Edan! Saya jadi semangat dan menggebu-gebu, ternyata arti dari Mentor teh dalem euy, dan lebih edannya lagi saya malah diangkat jadi mentor. Punya tanggung jawab yang lebih luas selain tukang coret-coret di website ini.

Siapa yang senyum-senyum sendiri waktu menonton film “Dilan 1990”? Ya. Kita semua, kecuali mereka ga nonton filmnya atau yang ga ikut senyum, iya atuh. Jujur saja, saya belum pernah baca novelnya sampai sekarang, novel yang sempat booming diantara tahun 2015 sampai 2016, dan meledak lagi setelah dirilisnya film “Dilan 1990”. Memang karena saya lebih fokus kepada sang kreatornya. Pidi Baiq, si lihay kata-kata, jahil dan suka menyisipkan makna lewat ke absurd-an disetiap lagu The Panasdalam, Argumentum in Absurdum, begitu nama albumnya. Diluar ekspetasi saya kalo beliau ternyata bisa membentuk cerita yang sebenarnya tidak punya konflik berarti tapi bisa terlihat menarik, dan jujur (lagi) saya menikmatinya. Banget. Saya sangat mengacungi jempol beserta jari yang lainnya untuk Ayah Surayah (panggilan akrab Pidi Baiq). Nah pertanyaannya bagaimana kita bisa membuat atau membentuk cerita agar menarik untuk disimak dan dinikmati? Nah saya punya kiat-kiatnya nih versi Studio Matahati, di simak ya!

Sebelum melangkah ke teknis membuat dan membentuk cerita yang menarik, kalian harus punya ide dulu untuk membuat sebuah cerita. Banyak diantara kita yang masih bingung untuk mencari ide, padahal ide itu sebenarnya sudah ada di kepala kita sejak lama, lewat apa yang kita lihat ataupun apa yang kita pelajari, singkatnya sih yang kita sebut dengan pengalaman. Nah kalian mau tau cara mengeluarkan ide? Tenang, ada kok cara mencari ide atau gagasan baru yang sistematis dan terencana. Seperti yang sering diucapkan oleh Presiden Animasi Ciomas; “Ide baru atau gagasan baru adalah perpaduan atau percampuran dari ide-ide atau gagasan-gagasan yang sudah ada.” Dari sana maka dirumuskanlah 5 Langkah Mencari Ide atau Gagasan.

 

  1. Melamun

Semua orang pernah melamun, semua orang pernah berkhayal dan semua orang pernah pernah berimajinasi. Sebenarnya melamun adalah modal awal untuk mencari sebuah ide atau gagasan baru, karena ketika melamun sebenarnya kita sedang membuka kembali apa yang sudah kita lewati dan akhirnya menjadi sebuah sketsa ide. Untuk melakukan ini sangat disarankan untuk ditemani secangkir kopi, teh atau mie kuah telor jika sedang hujan.

 

  1. Kumpulkan Pengalaman

Ketika kita sudah membuka kembali semua yang sudah kita lewati maka kumpulkanlah dan ‘letakan di atas meja’, jangan dikumpulkan di kepala saja. Beurat. “Kalo gelasnya berat jangan dipegang aja, taro, kan berat.” Begitu kalo kata si bapak.

 

  1. Pilah Bahan-Bahan

Jika semua sudah diletakan di meja maka pilah-pilah lah ‘bahan-bahan’ yang tidak diperlukan. Cari benang merah dari sesuatu yang ingin kita buat maka kita bisa memilah apa yang perlu dan apa yang tidak. Setelah dapat bahan-bahannya, maka BIARKAN.. Coba untuk berkegiatan lain misalnya mendaki Gunung Pangrango bersama kawan-kawan, sekedar melancong ke Taman Topi atau mencoba berbagai tingkat kelas rasa Mie Ayam yang ada di Mall BTM, mulai dari kelas kaki lima sampai ke bintang lima juga aya didieu mah, atau mungkin mampir ke peternakan kelinci yang ada di daerah Dramaga untuk sekedar melihat dan membeli serta bermain bersama kelinci. Aduh, saya jadi kangen sama kelinci saya, si Odel, kelinci terimut dan tercantik yang pernah saya punya. Dia sangat suka sekali untuk dimanja dan diusap-usap kepalanya, tingkahnya yang paling menggemaskan adalah ketika dia rebahan di atas rumput sembari mengendus-enduskan hidung , pancaran matanya yang sedikit sayu dihiasi eye-liner alami membuat saya tak tahan untuk selalu menggendongnya.. Namun sayangnya sekarang si Odel sudah berada di tempat yang lebih baik sekarang, semoga dia senang dan semakin gembira dialam yang lain. Aamiin yaAllah.. Eh iya kan, jadi lupa udah nomer ke berapa ya. Oke next!

 

  1. Campurkan dan Tangkap

Bila semuanya sudah dipilah dan dipilih maka ‘aduklah’ semua bahan-bahan yang ada. Lakukan percampuran yang se-kreatif mungkin untuk dicoba, jangan takut. Ga bayar ini kok. Maka biasanya akan ada ide-ide yang meletup dengan cepat, dan kita harus cekatan untuk menangkapnya.

 

  1. Sajikan

Setelah menangkap ide yang meletup maka langkah terakhir yang harus dilakukan adalah merealisasikannya dan menyajikannya kepada apa yang kita tuju. Karena percuma kalo udah dapet ide tapi ga direalisasikan mah.

Begitulah cara melamun yang benar dan cara mengkhayal yang terorganisir versi Studio Matahati. Ternyata kalau setiap konsep terorganisir maka tindakan menjadi sistematis, kreativitas melegalkan kita untuk melamun dan berkhayal, tetapi seperti yang kami lakukan, lamunan yang dikendalikan dan khayalan yang diarahkan kepada suatu tujuan, dalam kasus ini adalah cerita. Jadi ketika lima langkah ini sudah dijalankan, maka saatnya kita membuat dan membentuk cerita. Ayoo! Make your move.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *